Bilal Shalat Jumat Bid’ah ? Ini Penjelasannya

Artikel, Hikmah115 Dilihat

Aslisunda.com – Belakangan ini banyak golongan yang berasa amat menguasai hadis, sampai berani menyampaikan beberapa hasil ijtihad ulama salaf serta ulama mazhab sebagai bid’ah, Bahwa Bilal shalat Jumat Bid’ah cuma karena mereka tak mendapatkan hadis mengenai perihal itu.

Ini begitu lucu sekali, karena otomatis mereka memandang jika dianya lebih tahu serta bertambah banyak ingat hadis dibanding ulama salaf serta ulama mazhab. Ini wujud fakta kesombongan yang menakjubkan pada ulama serta su’ul akhlak.

Apakah benar mereka lebih tahu beberapa dari Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad serta Ulama salaf yang lain? Pastinya jauh sekali bagai langit serta bumi apabila diperbandingkan dengan banyak ulama salaf.

Pada soal yang mereka kira sebagai bid’ah yakni soal Muraqqi shalat Jumat, sebab menurutnya tak terdapat pada kurun Nabi Saw.

Rata-rata, sebelumnya khatib memberikan khutbahnya, kita dengar pembacaan tarqiyyah, bacaan sebagai tandanya khatib bakal selekasnya naik ke atas balkon. Secara bahasa tarqiyyah mempunyai arti “menaikan”.

Petugas yang membacanya bernama muraqqi atau bilal, rata-rata berperan sebagai muadzin. Lantas apa rutinitas tarqiyyah mereka kia bid’ah, apakah benar begitu?

Silahkan kita tonton hadis berikut ini:

عَنْ بِلاَلِ بْنِ رَبَاحٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لَهُ غَدَاةَ جَمْعٍ « يَا بِلاَلُ أَسْكِتِ النَّاسَ ». أَوْ « أَنْصِتِ النَّاسَ »

“Dari Bilal bin Rabbah Ra., jika Rasulullah Saw. bercakap padanya saat pagi hari di Mina: “Wahai Bilal, suruh beberapa orang untuk diam” (HR Ibnu Majah, sanadnya sahih)

Anda Bisa Baca : Ini Bacaan Bilal Sholat Jumat

Pergi dari hadis di atas, ulama syafi’iyah mengeruk hukum serta berasumsi jika muraqqi shalat Jumat tidaklah bid’ah. Ibnu Bantai al-Haitami bercakap:

وَأَقُولُ يُسْتَدَلُّ لِذَلِكَ أَيْضًا بِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ مَنْ يَسْتَنْصِتُ لَهُ النَّاسَ عِنْدَ إرَادَتِهِ خُطْبَةَ مِنًى فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَقِيَاسُهُ أَنَّهُ يُنْدَبُ لِلْخَطِيبِ أَمْرُ غَيْرِهِ بِأَنْ يَسْتَنْصِتَ لَهُ النَّاسَ وَهَذَا هُوَ شَأْنُ الْمُرَقِّي فَلَمْ يَدْخُلْ ذِكْرُهُ لِلْخَبَرِ فِي حَيِّزِ الْبِدْعَةِ أَصْلًا

“Muraqqi berdasar dengan hadis jika Rasulullah memerintah seseorang (kawan akrab Bilal) untuk merehatkan beberapa orang, saat Nabi Saw ingin khutbah di Mina saat Haji perpisahan.

Secara qiyas, bilal ini memberikan himbauan agar jamaah diam ketika hotib berhutbah. Ini yakni sikap Muraqqi. Sebab dalam koridor hadis, karenanya muraqqi Shalat Jumat ini tidak bid’ah betul-betul”[1]

[1] Syaikh Ibnu Bantai al-Haitami, Tuhfat al-Muhtaj, 9/310

Itulah Penjelasan Bilal shalat Jumat Bid’ah, kalau merasa bermanfaat, share ya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *