Di Sunda Namanya Ole-Olean, Di Kerinci Namanya KATITE

Pasundan96 Dilihat

Kerinci Jambi, di tahun 1970-han kebawah, anak-anak di Kerinci tidak sabar menanti musim “Munuai” atau musim panen padi datang. Di mana saat-saat itu musim panen cuma satu tahun sekali ataupun lebih dikenali di Kerinci dengan panggilan musim Munuai Padi Tinggi. Di mana saat musim munuai tiba, selingan anak-anak lumayan banyak, salah satunya orang munuai akan dihibur oleh “Tukang Kunun” yakni seorang tukang menceritakan papar/ narasi lisan dengan iramanya yang unik dan alat musik seadanya “blek buhuk” (kaleng sisa). Khususnya narasi mengenai kepahlawanan Malim Dewa atau yang dikenali di Siulak-Kerinci dengan panggilan Kunun Jugie, Kunun Tupai Injang, Kunun Siti Warno, dan lai beberapaya. Terkadang ketika musim munuai cuaca benar-benar panas, terik mentari yang cukup panas, mereka dihibur dengan Tale atau Barendie (yakni nyanyian rintihan). Selainnya dengarkan kunun dan tale/barendie saat musim munuai, anak-anak akan bermain lumpur, memancing belut, dan membuat “katite”.

Katite adalah alat musik tiup simpel seperti serunai dan seruling untuk permainan anak-anak, tetapi katite ini dibikin dari puput tangkai padi. Pada jaman dulu sekitaran tahun 1990-han kebawah, katite sebagai mainan anak-anak ketika turut membantu orangtuanya kesawah dimusim memetik/memetik padi. Sawah sebagai tempat terbaik anak-anak Kerinci bermain ketika sehabis pulang sekolah.

Katite ini benar-benar gampang untuk dibikin, cukup dengan perlengkapan pisau katite ini bisa dibuat. Sebelumnya mengambil sebatang rumpun padi, selanjutnya potong ujungnya dan dinggalkan ruasnya di atas. Lantas tekan di bawah bukunya dengan jempol dan jemari tunjuk, ulang sekitarnya sampai di bawah buku itu pecah semua dan membuat seperti pelupuh bambu. Lantas pencet di atas bukunya dengan jemari dan tahan sisi bawahnya hingga bilah-bilah yang pecah barusan seperti lukah/bubu. Selanjutnya coba ditiup, jika mengeluarkan bunyi, karena itu tinggal menambah lobangnya beberapa buah hingga membuat seruling/serunai selanjutnya tiup dan permainkan seenaknya.

Selanjutnya untuk menambahkan keunikannya, anak-anak umumnya membuat kerucut dari daun pisang lalu dihubungkan ke katite hingga bunyinya semakin keras dan serupa alat musik tradisionil kerinci yang namanya “serangko” yakni alat musik dari buluh bambu dan dihubung dengan sundul kerbau.

Saat musim munuai atau musim panen datang tampaklah anak-anak bermain meniupkan katite. Baik yang duduk dipunggung kerbau, atau yang main kejar-kejaran disawah. Selain katite dari tangkai padi, alat musik simpel bisa dibikin dari rumpun memimpin yang masih terbilang muda, di mana antara kelopak-kelopak daunnya yang sama-sama melekat dipuncaknya dipotong atas dan bawah selanjutnya ditiup, akan beralih menjadi satu alat musik tiup simpel.

Katite tangkai padi ini satu alat musik permainan anak-anak yang unik, tetapi sekarang tidak ada anak-anak yang bermain katite karena perkembangan jaman dan teknologi. Selain itu, anak-anak saat ini tidak adalagi yang turut orangtuanya bermain kesawah.

Katite sebagai alat musik “anak-anak” di Kerinci yang kehadirannya cuma hanya Tahun 1990-han kebawah, dan jaman saat ini telah susah untuk ditemui kembali, akan tetapi, kehadirannya pernah memeriahkan sawah orang Kerinci di jamannya dan jadi mainan murah dan meriah untuk anak-anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *