Dongeng Sunda Mang Dedi : Jawara Ti Kuburan Bagian 54

Cerpen177 Dilihat

Dongeng Sunda Mang Dedi : Jawara Ti Kuburan Bagian 54

SUDAH dari tahun 1950-an orang Sunda gelisah menggunakan sejarahnya. Lebih-lebih generasi kini , mereka selalu mempertanyakan, betulkah sejarah Sunda misalnya yg diceritakan orang-orang tua mereka?
Katanya, kekuasaan membentang dari Kali Cipamali di timur terus ke barat, wilayah yang kini menjadi Jawa Barat. Prabu Siliwangi menjadi Raja yg bijaksana. Betulkah? Sejarah Sunda memang nir poly berbicara pada percaturan sejarah nasional. “Yang diajarkan pada sekolah, paling hanya 3 kalimat,” istilah Dr Edi Sukardi Ekadjati, peneliti, sejarawan & Kepala Museum Asia Afrika pada Bandung. Isinya singkat saja hanya mengungkap mengenai Kerajaan Sunda menggunakan Raja Sri Baduga pada wilayah yg kini dianggap Jawa Barat, kemudian runtuh.
Padahal, kerajaan menggunakan corak animistis & hinduistis ini telah berdiri semenjak abad ke-8 Masehi & berakhir eksistensinya menjelang abad ke-16 Masehi. Kisah-kisahnya yg begitu panjang, lebih poly diketahui melalui cerita ekspresi sebagai akibatnya sulit ditelusuri jejak sejarahnya.
Namun ini berarti, nenek moyang orang Sunda kemudian meninggalkan sesuatu yg sanggup dilacak oleh anak cucunya lantaran kecakapan tulis-menulis pada daerah Sunda telah diketahui semenjak abad ke-lima Masehi. Ini sanggup dibuktikan menggunakan prasasti-prasasti pada masa itu. Memang peninggalan karya tulis berupa naskah pada masa itu sampai sekarang belum dijumpai.
Namun sesudah itu ditemukan naskah antik pada bahasa & alfabet Sunda Kuno, yakni naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian yg terselesaikan disusun tahun 1518 M & naskah Carita Bujangga Manik yg dibentuk akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16. Suhamir, arsitek yg memberikan minat akbar pada sejarah Sunda menjuluki naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian menjadi “Ensiklopedi Sunda”.
Naskah-naskah lainnya adalah Cariosan Prabu Siliwangi (abad ke-17 atau awal abad ke-18), Ratu Pakuan, Wawacan Sajarah Galuh, Babad Pakuan, Carita Waruga Guru, Babad Siliwangi dan lainnya.
NASKAH Sanghyang Siksa Kana Ng Karesian dan Carita Bujangga Manik disusun pada zaman Kerajaan Sunda-Pajajaran masih ada dan berkembang. Karena itu, dilihat dari kacamata sejarah, kedua naskah tersebut bisa jadi sumber primer. Sedangkan naskah-naskah lainnya yang disusun setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh termasuk sumber sekunder. Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh pada tahun 1579.
 
 
 
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *